Kamis, 26 Juni 2014

Teknik Pemasukan Udara Alamiah Diperlukan dalam Pembangunan Pelimpah Bendungan

Kondisi eksisting saluran luncur pelimpah bendungan di Indonesia tidak banyak yang memanfaatkan teknik artificial air entrainment terutama aerator untuk mencegah terjadinya kavitasi. Kavitasi adalah gejala menguapnya zat cair yang sedang mengalir sehingga membentuk gelembung-gelembung uap disebabkan karena berkurangnya tekanan cairan tersebut sampai dibawah titik jenuh uapnya (kavitasi).


Di Pulau Jawa hanya pelimpah bendungan Wadas Lintang yang menerapkan teknik ini. Padahal kerusakan yang diakibatkan oleh fenomena kavitasi sangat berbahaya yaitu dapat meruntuhkan pelimpah bendungan sekaligus bendungan itu sendiri, karena struktur ini merupakan pelindung utama bendungan.
“Penelitian ini diharapkan bisa mengubah pola pikir agar teknik artificial air entrainment bisa diterapkan dalam pembangunan pelimpah bendungan,” papar Yeri Sutopo pada ujian terbuka program pascasarjana Fakultas Teknik UGM, Kamis (26/6) di Fakultas Teknik UGM.
Pada kesempatan itu Yeri mempertahankan disertasinya berjudul "Pemasukan Udara Alamiah dan Buatan di Saluran Curam (Self and Artificial Air Entrainment in Steep Channel)" dengan promotor Prof. Dr. Ir. Budi S. Wignyosukarto, Dipl., H.E., ko-promotor Dr. Ir. Istiarto, M.Eng dan Prof. Dr. Ir. Bambang Yulistyanto.
Yeri menjelaskan dengan teknik ini jumlah gelembung udara yang tinggi di dalam aliran terutama di hilir saluran luncur pelimpah bendungan menyebabkan kecukupan kebutuhan oksigen bagi biotika di dalam sungai sehingga mendukung kegiatan konservasi lingkungan yang bersifat green technology, sehingga dapat menjaga jenis dan jumlah biotika di dasar sungai yang merupakan kekayaan alam Indonesia.
“Pada aliran superkritik, udara dari atmosfir masuk ke dalam aliran. Masuknya udara dalam aliran akan memperbesar volume aliran sehingga menyebabkan aliran melimpas di atas dinding samping,”kata dosen di jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang itu.
Ia menambahkan erosi di saluran luncur sebenarnya dapat dikurangi atau dihilangkan dengan beberapa cara, seperti meningkatkan tinggi tekanan, meningkatkan kehalusan dasar dan dinding saluran luncur, memasang slot aeration dan memasang aerator. Menurut Yeri untuk meningkatkan kehalusan dasar dan dinding saluran dengan cara menggunakan material tertentu cukup mahal sehingga perlu memasang slot aeration atau aerator.
“Biasanya masalah yang muncul adalah pengaruh pemasukan udara baik secara alamiah maupun buatan terhadap unjuk kerja saluran berkemiringan curam,” tegas Yeri.
Di akhir paparan Yeri berharap penelitiannya ini secara praktis dapat digunakan untuk memprediksi distribusi konsentrasi gelembung udara di wilayah developing pada kondisi pemasukan udara alamiah (self air entrainment) yang berhubungan dengan pencegahan terjadinya kavitasi di dasar saluran curam atau di dasar saluran luncur pelimpah bendungan. (Humas UGM/Satria)

Sumber: http://ugm.ac.id