Sabtu, 20 Oktober 2012

Deklarasi Anti Kekerasan

Jakarta, 15 Oktober 2012–Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengajak seluruh pimpinan perguruan tinggi, baik negeri dan swasta untuk melakukan gerakan anti-kekerasan di lingkungan kampus. Hal tersebut diungkapkan Mendikbud dalam rapat koordinasi dengan Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) seluruh Indonesia yang dilaksanakan di Gedung D Kemdikbud.

Seusai kunjungan Mendikbud pasca-tawuran mahasiswa di Makassar, Mendikbud menilai penting untuk membangun komitmen yang sama pada semua pimpinan PTN dan PTS untuk melakukan upaya maksimal di masing-masing kampus dalam rangka mencegah tawuran. Pimpinan perguruan tinggi memiliki peran dan tanggung jawab langsung terhadap semua aspek yang terjadi di kampus masing-masing.

Pada kesempatan ini Mendikbud kembali menyatakan akan memberikan sanksi tegas bagi semua pihak yang terlibat dalam tawuran, mulai dari sanksi bagi institusi, pimpinan perguruan tinggi, maupun mahasiswa yang terlibat tawuran. ” Tidak ada toleransi”, tegas Mendikbud.

“Harus kita hentikan. Segala upaya harus kita lakukan untuk menghentikan tawuran dalam jangka pendek dan panjang,” pungkas Nuh.

Mendikbud meminta perguruan tinggi negeri dan swasta mulai serius menyelami dinamika kehidupan mahasiswa. Mahasiswa hendaknya diberikan ruang publik atau kegiatan yang luas untuk menyalurkan ekspresi positif mereka. Peran Pimpinan Perguruan Tinggi, terutama yang bertanggung jawab terhadap bidang kemahasiswaan sangat dituntut dalam hal ini.

Dalam pertemuan yang dimoderatori langsung oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso tersebut juga dibacakan deklarasi anti-kekerasan di lingkungan perguruan tinggi, sebagai bentuk untuk komitmen pimpinan perguruan tinggi seluruh Indonesia dalam upaya mencegah terjadinya kekerasan di kampus. Pembacaan dan penandatangan deklarasi diwakili Sekretaris Jenderal Majelis Rektor Indonesia Herry Suhardiyanto dan Koordinator Kopertis Wilayah II Diah Natalisa.

Unduh:

sumber: dikti.go.id