Memuat...

Selasa, 26 Mei 2015

LOWONGAN DI PT. TRIMATRA CONSTRUCTION



PT TRIMATRA CONSTRUCTION
membutuhkan  Lulusan Teknik Sipil S1 atau D3
Diutamakan Fresh Graduate atau pengalaman 1 s/d 3 tahun.
Lamaran dikirim via e-mai ke : hendro17000@gmail.com

Rabu, 20 Mei 2015

Pengukungan Profesor Dr. Ir. Saratri Wilonoyudho, M.Si.


Kamis (21/5) Rektor Universitas Negeri Semarang Prof Dr Fathur Rokhman, MHum mengukuhkan dosen Jurusan Teknilk Sipil Fakultas Teknik, Dr Saratri Wilonoyodho sebagai Profesor Bidang Ilmu Kependudukan dan Lingkungan Perkotaan. Acara pengukuhan berlangsung di Auditorium Unnes dengan menyampaikan pidato pengukuhan ”Urbanisasi Berlebih Menyongsong Pulau Jawa Menjadi Pulau Kota”.
Profesor Saratri adalah profesor ke-2 Jurusan Teknik Sipil dan profesor ke-102 Unnes dengan memfokuskan ke bidang arsitektur perkotaan.
Di Indonesia perubahan sosial ekonomi dan kemiskinan di perdesaan telah banyak dibahas dan diteliti, namun penelitian tentang masalah kota boleh dikatakan masih sangat langka. Menurut beberapa ahli, persoalan yang menyertai pertumbuhan kota-kota di negara-negara berkembang adalah kegagalan kebijakan industrialisasi modern di satu sisi dan kegagalan pembangunan pertanian di sisi lain (urban bias), sehingga urbanisasi semakin tidak terkendali.


Jakarta misalnya kini telah “menyatu” dengan Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (“Jabodetabek”) dan membentuk sebuah “megapolitan”. Demikian pula Semarang dengan “Kedungsepur” (Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, Purwodadi), atau Surabaya dengan “Gerbang kertasusila” (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan), dan juga kota Bandung Raya. 

Selamat Prof ! semoga amanah baru ini dapat memberikan manfaat, baik dalam karir maupun lembaga dan masyarakat luas.

Minggu, 10 Mei 2015

Great Team Concrete UNNES Juara 2 Innovation of High Strength Green Concrete Competition 2015


Sabtu, 09 Mei 2015 merupakan hari yang bersejarah bagi Great Team Concrete  Universitas Negeri Semarang (GTC UNNES). Pasalnya di hari itu merupakan hari diumumkannya juara lomba “Innovation of high strength green concrete competition 2015” yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Tim GTC UNNES ini sendiri beranggotakan Afridjal ottohyat, Bagus Setiawan, dan Dimas Pandhu Narasandi. Ketiganya adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Teknik Bangunan angkatan 2013. Total Peserta yang ikut dalam lomba ini sejumlah 26 tim dari berbagai Universitas di Indonesia. Dalam perlombaan ini terdiri dari 2 tahap seleksi, yang pertama adalah melakukan mix desain yang dilaksanakan pada 27 Maret 2015 di Universitas Atma Jaya, dan di seleksi menjadi 5 finalis yang lolos menuju babak final. Tahap kedua para finalis melakukan presentasi di hadapan 3 juri yang masing masing merupakan dosen dari UAJY, UB, dan UGM serta panitia lomba pada hari jum’at 8 mei 2015. Pengumumannya sendiri di laksanakan pada hari sabtu, 9 mei 2015 di ruang Student lounge kampus 2  UAJY.

Adapun urutan pemenangnya adalah:
  1. USU ( Universitas Sumatra Utara )
  2. UNNES ( Universitas Negeri Semarang )
  3. UAJY ( Universitas Atma Jaya )
  4. UMM ( Universitas Muhammadiyah Malang )
  5. UII ( Universitas Islam Indonesia )
Selamat ! tingkatkan prestasi ...

Selasa, 14 April 2015

Nur Qudus Doktor Lingkungan di Teknik Sipil Unnes

Selamat ! kepada Dr. Nur Qudus, MT sebagai doktor bidang lingkungan di Jurusan Teknik Sipil Unnes



Perubahan tata guna lahan khususnya di kawasan resapan air tanah, pembangunan permukiman dan industri serta pemompaan air tanah yang tidak terkendali menyebabkan rusaknya potensi persediaan air tanah. Hal ini menyebabkan tanah kehilangan daya resap sehingga air hujan tidak dapat terinfiltrasi, tetapi mengalir bebas di permukaan tanah menuju selokan atau sungai yang kemudian mengalir ke laut.

“Kalau kondisi ini berlangsung lama dapat menyebabkan terganggunya sistem daur hidrologi berakibat menurunnya kualitas dan kuantitas air tanah,”papar Nur Qudus pada ujian terbuka doktor Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UGM, Selasa (14/4).

Dalam disertasinya berjudul Penerapan Sistem Resapan Air Hujan di Kawasan Permukiman Kota Semarang, Nur Qudus menjelaskan pertumbuhan kota yang antara lain ditunjukkan oleh terjadinya peningkatan jumlah dan kepadatan penduduk, tidak seimbang dengan ketersediaan lahan yang ada. Konversi dari lahan terbuka hijau menjadi lahan permukiman dan industri di Kota Semarang setiap tahun terus terjadi. Data BPS Kota Semarang tahun 2012 menunjukkan bahwa penggunaan lahan untuk permukiman menempati urutan pertama sebesar 33,12% atau sekitar 12.355,96 Ha dari luas lahan Kota Semarang seluas 37.360 Ha.

“Kepadatan dan perluasan kawasan permukiman mengakibatkan penurunan kualitas kenyamanan hidup baik di perkotaan maupun pedesaan. Berkurangnya kawasan resapan bisa menyebabkan banjir, longsor, erosi dan sedimentasi,”urai dosen di Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang itu.

Menurut Qudus upaya perlindungan dan pelestarian sumberdaya air khususnya air tanah dapat dilakukan dengan menggunakan sistem drainase air hujan yang berwawasan lingkungan, yaitu dengan rekayasa teknis resapan air hujan. Rekayasa teknis resapan air hujan berfungsi untuk menampung air hujan yang jatuh di atap bangunan maupun yang sudah menjadi limpasan selanjutnya diresapkan ke dalam tanah. “Rekayasa sistem resapan air hujan juga untuk mengurangi debit aliran permukaan dan menambah pengimbuhan air tanah yang dapat dilakukan dengan pembuatan sistem resapan,”katanya.

Hasil penelitian yang telah dilakukannya di 88 lokasi permukiman di Kota Semarang yang tersebar di 16 kecamatan menunjukkan bahwa 30 lokasi memenuhi syarat menggunakan sistem resapan vertikal dengan sumur resapan dan 3 (tiga) lokasi memenuhi syarat menggunakan sistem resapan horizontal dengan parit resapan.

Hasil penelitian tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat tentang sistem resapan air hujan di Kota Semarang menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki pengetahuan yang cukup tentang sistem resapan air hujan dan memiliki sikap yang sangat baik untuk menerapkan dalam kehidupan masyarakat.

“Ke depan perlu sosialisasi kepada masyarakat tentang beberapa daerah yang tidak layak sebagai resapan. Hal ini sebagai antisipasi agar masyarakat tidak melakukan peresapan air di daerah itu karena memungkinkan longsor,”pungkas Qudus
 
source: http://ugm.ac.id